<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JAMBUDIPA Weblog's</title>
	<atom:link href="http://jambudipa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jambudipa.wordpress.com</link>
	<description>Media Silaturahmi &#38; Aspirasi Urang Lembur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 May 2008 19:03:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jambudipa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/47a99123643fde57d8afd779e8f367cc?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JAMBUDIPA Weblog's</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sejarah Desa Jambudipa</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/23/sejarah-desa-jambudipa/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/23/sejarah-desa-jambudipa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 19:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Jambudipa adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur. Luas wilayah Desa Jambudipa

sekitar 167,6 Ha yang sebagian besar berupa lahan pesawahan seluas 129 Ha dengan ketinggian kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut. 
Desa Jambudipa dapat dikategorikan sebagai daerah rural/transisi yaitu daerah yang masyarakatnya bertransisi dari masyarakat desa menuju masyarakat kota. Hal ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=11&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jambudipa adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur. Luas wilayah Desa Jambudipa<br />
<span id="more-11"></span><br />
sekitar 167,6 Ha yang sebagian besar berupa lahan pesawahan seluas 129 Ha dengan ketinggian kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut. </p>
<p>Desa Jambudipa dapat dikategorikan sebagai daerah rural/transisi yaitu daerah yang masyarakatnya bertransisi dari masyarakat desa menuju masyarakat kota. Hal ini dikarenakan letak wilayah yang dekat dengan pusat kota (9 km ke Ibukota Kabupaten Cianjur), Pemerintahan desa yang dekat dengan kecamatan (1 km), sistem perekonomian yang beragam, jalur yang strategis dilewati jalan protokol sehingga menjadi daerah transit yang menghubungkan Sukabumi dengan Bandung.</p>
<p>Desa ini terkenal dengan beberapa produk unggulannya seperti padi pandanwangi dan lampu hias gentur yang sudah merambah manca negara. Selain itu desa ini juga dikenal dengan daerah santri karena banyaknya pondok pesantren. Pesantren yang paling dikenal diantaranya  Pesantren Gentur dan Pesantren Darul Falah Jambudipa.</p>
<p>Menurut legenda dan cerita beberapa tokoh masyarakat desa, riwayat asal nama jambudipa yaitu dikisahkan pada masa sekitar abad ke-18 ada beberapa pasukan Kerajaan Mataram yang hendak menuju ke daerah Banten melalui Jalan tengah melewati daerah Cianjur. Pasukan tersebut dipimpin oleh Ratu Linggo. Ratu Linggo sampai di suatu tempat pedataran yang masih merupakan kebun ilalang dan pohon-pohon rindang untuk beristirahat sambil mengasah dan memperdalam ilmu kebathinan atau ilmu &#8220;Jawu&#8221;. Karena keunikan ilmu tersebut sehingga mengundang pasukan-pasukan yang lain untuk belajar. Akhirnya Ratu Linggo dan pasukannya membuka tempat dan orang-orang pada waktu itu menyebut tempat tersebut dengan nama &#8220;Jawu Dwipa.&#8221; -Tidak diketahui selanjutnya pergeseran istilah Jawu Dwipa menjadi Jambudipa-  Sekembalinya dari Banten putra Ratu Linggo yaitu Raden Jumulloh menetap di Jambudipa. Sedangkan Ratu Linggo pindah ke daerah Sumedang.</p>
<p>/*DS*</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=11&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/23/sejarah-desa-jambudipa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelestari Lampu Antik Gentur</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/16/pelestari-lampu-antik-gentur/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/16/pelestari-lampu-antik-gentur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 15:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Lebih banyak diminati orang asing.

Kalau hendak pergi ke kawasan Puncak, Bogor, mampirlah di kawasan Cisarua. Di sepanjang jalan, banyak toko yang menjual aneka lampu antik. Ada yang memang benar-benar antik, ada pula yang antik-antikan. Dari sekian banyak lampu hias itu, yang paling menarik perhatian adalah lampu dengan kaca mozaik berwarna-warni yang dipadukan dengan logam kuningan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=10&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lebih banyak diminati orang asing.</p>
<p><span id="more-10"></span><br />
Kalau hendak pergi ke kawasan Puncak, Bogor, mampirlah di kawasan Cisarua. Di sepanjang jalan, banyak toko yang menjual aneka lampu antik. Ada yang memang benar-benar antik, ada pula yang antik-antikan. Dari sekian banyak lampu hias itu, yang paling menarik perhatian adalah lampu dengan kaca mozaik berwarna-warni yang dipadukan dengan logam kuningan. Lampu jenis ini sudah banyak dikoleksi hotel atau orang-orang berduit.</p>
<p>&#8220;Ini lampu Gentur, asli Cianjur,&#8221; kata si pedagang lampu sembari menunjuk lampu yang dimaksud. Gentur adalah sebuah kampung yang terletak di Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, sekitar 10 kilometer ke arah selatan dari Kota Cianjur. Di sinilah sentra lampu nan artistik itu berdiri. Hampir semua warga kampung yang hidup sederhana itu mengolah logam dan kaca menjadi lampu. </p>
<p>Di antara para pembuat lampu, Enang Saepudinlah yang dinilai paling sukses memasarkan lampu Gentur hingga ke Eropa dan Amerika. Itu sebabnya, Enang dipilih menjadi menjadi Ketua Koperasi Industri Kerajinan Rakyat Lampu Gentur, yang beranggotakan 30-an perajin lampu. </p>
<p>Pria separuh baya ini bertutur sejatinya lampu hias itu merupakan warisan para santri Pesantren Gentur yang telah berusia 50 tahun&#8211;salah satu santrinya yang terkenal adalah KH A. Shohibulwafa Tajul Arifin, yang dikenal dengan nama Abah Anom. Menurut Enang, membuat lampu adalah bagian dari tradisi yang dilakoni para santri ini. Bahkan lampu menjadi sumber penghasilan mereka. &#8220;Awalnya para santri itulah yang membuat lampu ini karena butuh penerangan pada malam hari,&#8221; kata ahli waris generasi ketiga dari pendiri pesantren tersebut. </p>
<p>Semula, katanya, lampu itu hanya dipasarkan kepada warga sekitar. Hingga suatu ketika datang pembeli dari luar Cianjur yang memesan lampu berbentuk miniatur rumah Minangkabau. &#8220;Pesanan itu menjadi sejarah yang tercatat karena bisa dipenuhi santri,&#8221; ujarnya. Sejak itulah lampu Gentur seolah menemukan dunia lain yang jauh lebih luas dan variatif. Lampu Gentur pun tak cuma berputar-putar di sekitar Cianjur.</p>
<p>Kini lampu Gentur dijual dengan harga Rp 50-350 ribu per unit. &#8220;Tergantung keunikan desainnya,&#8221; kata dia. Pasar utamanya, selain Bali, adalah Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Menurut Enang, melalui Bali, dia memasarkan lampu Gentur hingga ke Singapura, Malaysia, Italia, Yunani, dan Amerika Serikat. &#8220;Sampai sekarang saya sudah membuat lebih dari 200 model lampu. Semuanya masih laku dan ada pemesannya masing-masing,&#8221; katanya. </p>
<p>Para peminat seni, kata dia, paling sering mencari lampu gantung model balon dengan garis tengah 50 sentimeter berbahan baku kaca gelas putih susu, yang harganya Rp 175 ribu per buah. Sedangkan untuk lampu gantung minyak antik, Enang mengaku telah meniru model lampu kerajaan Persia. &#8220;Model ini agak mahal, satunya Rp 250 ribu,&#8221; paparnya. </p>
<p>Model yang paling laku, tutur Enang, tentu saja modal lampu kaca starfole. Ini merupakan lampu dekoratif yang dibuat dari mozaik kaca dipadu dengan kuningan. Ada beragam model yang ditawarkan. Untuk lampu ukuran diameter 50 sentimeter, harganya Rp 150 ribu, sedangkan yang 30 sentimeter cukup Rp 75 ribu. &#8220;Model ini kebanyakan untuk interior restoran dan rumah tinggal,&#8221; kata Enang. </p>
<p>Menurut Enang, pemesan lampu Gentur lebih banyak datang dari luar negeri. Umumnya, kata dia, orang asing senang dengan keunikan lampu ini, yang berwarna-warni dengan logam kusam kekuning-kuningan. &#8220;Kalau konsumen lokal, hanya dari kalangan tertentu,&#8221; ujarnya. &#8220;Mereka maunya logam yang kuning mengkilat.&#8221;</p>
<p>Namun, pemasaran lampu Gentur sempat terganggu ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta pada akhir Mei lalu. Bisnis Enang dan para perajin lain sempat terganggu. Akibat musibah itu, pesanan yang datang dari Amerika Serikat tiba-tiba dibatalkan. Dia memang berekanan dengan pengusaha dari Kota Gudeg itu untuk ekspor ke Amerika. Apa daya, gempa bumi menghancurkan impian. &#8220;Waktu itu omzet penjualan turun lumayan. Beberapa pesanan batal,&#8221; katanya.</p>
<p>Pemasaran agaknya masih menjadi persoalan bagi para perajin lampu Gentur. Mereka masih belum mampu menjual langsung kepada pembeli di luar negeri. Para perajin ini masih harus melalui pedagang di Yogyakarta atau Bali untuk bisa menembus pasar ekspor. Padahal, jika bisa menjual langsung, keuntungan yang mereka peroleh tentu lebih besar ketimbang menyerahkan pemasarannya kepada pihak ketiga. Inilah tampaknya pekerjaan rumah yang berat bagi Enang dan perajin lampu Gentur lain.</p>
<p>Selain itu, kata Enang, meski Kampung Gentur telah menjadi sentra dengan lampu hias sebagai industri andalan, pemerintah daerah setempat belum memberikan perhatian. Seharusnya, kata dia, pemerintah mendorong pemasaran dan permodalan sehingga perkembangan industri kerajinan tak berjalan lambat. &#8220;Kami ingin pemerintah menjadi fasilitator yang menghubungkan kami dengan mitra usaha dengan pola kemitraan,&#8221; ujarnya. DEDEN ABDUL AZIZ</p>
<p><em>Sumber: </em><a href="http://www.korantempo.com/korantempo/2007/02/03/Suplemen/krn,20070203,66.id.html">www.korantempo.com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=10&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/16/pelestari-lampu-antik-gentur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adep Bertahan Membuat &#8220;Mangsi&#8221;</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/16/adep-bertahan-membuat-mangsi/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/16/adep-bertahan-membuat-mangsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 15:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[SEBELUM alat tulis pulpen atau sejenisnya buatan pabrik beredar di pasaran, masyarakat umumnya menggunakan alat tulis berupa tinta atau mangsi dengan kalam. Mata atau ujung kalam yang tajam, dicelupkan pada tinta. Kemudian barulah ditulis ke kertas.


ADEP (50) warga Kp. Peuteuycondong Desa Songgom Kec. Gekbrong Kab. Cianjur, memeragakan cara menulis menggunakan tinta tradisional buatannya. Hingga saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=9&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SEBELUM alat tulis pulpen atau sejenisnya buatan pabrik beredar di pasaran, masyarakat umumnya menggunakan alat tulis berupa tinta atau mangsi dengan kalam. Mata atau ujung kalam yang tajam, dicelupkan pada tinta. Kemudian barulah ditulis ke kertas.</p>
<p><span id="more-9"></span><br />
<img src="http://www.pikiran-rakyat.com/foto/tgl_20_01_2008/14-TintaTradisional.jpg" alt="Picture" /><br />
<em>ADEP (50) warga Kp. Peuteuycondong Desa Songgom Kec. Gekbrong Kab. Cianjur, memeragakan cara menulis menggunakan tinta tradisional buatannya. Hingga saat ini, dia bersama istrinya masih rutin mendapat pesanan membuat &#8220;mangsi&#8221; dari salah satu toko di Cianjur Kota.* YUSUF ADJIE/&#8221;PR&#8221;</em></p>
<p>Namun, sejak pulpen beredar di pasaran, keberadaan mangsi dan kalam ini lambat laun ditinggalkan. Kalaupun masih ada, kemungkinan hanya digunakan untul kalangan terbatas saja. Seiring dengan itu, pembuat tinta atau mangsi tradisional kini sudah terbilang sangat jarang atau langka.</p>
<p>Namun demikian, bukan berarti pembuat mangsi tradisional ini sudah punah. Saat ini, masih ada yang bertahan. Salah satunya yang masih rutin memproduksi adalah pasangan suami istri Adep (50) dan Enung (40) warga Kampung Peuteuycondong Desa Songgom Kec. Gekbrong Kab. Cianjur. Hingga saat ini, mereka berdua masih rutin mendapat pesanan membuat mangsi dari salah satu toko di Cianjur Kota.</p>
<p>&#8220;Pesanannya tidak rutin tiap hari. Kami membuat mangsi bergantung pada pesanan. Biasanya sih antara tiga atau empat bulan sekali, sekali pesan mencapai 30.000 botol kecil. Semua biaya dan bahan bakunya disediakan pemesan, di sini cuma membuat saja. Kami cuma dapat upah kerja, yah lumayan buat tambahan penghasilan,&#8221; ujar Adep, Minggu (20/1).</p>
<p>Adep mengatakan, mangsi buatan dia dan istrinya hingga saat ini masih ada pemesan karena lebih tahan lama di kertas. Dia tidak mengetahui pasti, hasil produksinya itu dipasarkan ke mana saja. Namun, berdasarkan informasi mangsi buatannya itu masih dipakai untuk santri di pesantren.</p>
<p>Adep mengungkapkan, bisa membuat mangsi merupakan warisan turun-temurun dari leluhur istrinya. Entah tahun berapa, keduanya tidak ingat lagi pertama kali bisa membuat tinta tersebut. Namun, perkembangan tinta itu berawal dari lingkungan pondok Pesantren Gentur di Desa Jambudipa Kec. Warungkondang puluhan tahun silam.</p>
<p>Ketika itu berawal dari kebutuhan sendiri untuk menulis, termasuk dipakai para santri. Akhirnya, pembuatan tinta dari lingkungan pesantren pun berkembang ke warga sekitarnya.</p>
<p>&#8220;Dulu sih membuat tinta untuk dipakai sendiri. Mungkin sudah dua puluh tahunan buat mangsi. Kalau saya hanya membantu, yang bisa memprosesnya hingga jadi tinta, istri saya. Istri saya kan asalnya dari Desa Jambudipa Kec. Warungkondang, di sana banyak yang bisa membuat tinta karena asalnya dari lingkungan Pesantren Gentur,&#8221; kata Adep.</p>
<p>Turun-temurun</p>
<p>Demikian pula dengan Enung, dirinya tidak mengetahui pasti kapan bisa membuat tinta. Hanya, dia mengaku bisa membuat tinta dari orang tuanya. &#8220;Turun-temurun orang tua saya juga bisa dari kakek saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Adep menceritakan, secara singkat proses pembuatan mangsi, menggunakan alat-alat di antaranya cempor dengan bahan bakar minyak tanah, blek (kaleng persegi), dan beras ketan. Di tempatnya menggunakan cempor dan blek sebanyak 74, bila semuanya digunakan sehari semalam bisa menghabiskan kira-kira 80 liter minyak tanah. &#8220;Cempor yang menyala dimasukkan dalam blek, dibiarkan hingga menghasilkan serbuk hitam yang menempel di blek,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menurut dia, serbuk hitam hasil pembakaran cempor yang menempel di blek itulah yang diambil dan dikumpulkan sebagai bahan baku utama tinta. Setelah itu, beras ketan ditumbuk hingga halus dan ditambah air. Kemudian, airnya disaring dan dicampurkan dengan serbuk hitam. &#8220;Biasanya pesanan 30.000 botol itu bisa kami kerjakan selama satu bulan, kalau dihitung-hitung bisa menghabiskan minyak tanah kira-kira 400 liter,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia mengatakan, sebenarnya proses pembuatan mangsi atau tinta tradisional, seperti yang dilakukannya tidaklah terlalu rumit. Namun, membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Dia menduga saat ini jumlah pembuat tinta tradisional berkurang kemungkinan bukan karena faktor membuatnya sulit, namun disebabkan enggan bergelut dengan kotorannya. &#8220;Kalau buat ini kan, khususnya sekujur tubuh bisa jadi hitam semua, mehong,&#8221; ungkapnya. (Yusuf Adji/&#8221;PR&#8221;)***</p>
<p><em>Sumber:</em> <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=8884">www.pikiran-rakyat.com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=9&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/16/adep-bertahan-membuat-mangsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pikiran-rakyat.com/foto/tgl_20_01_2008/14-TintaTradisional.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Picture</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Ayam Pelung</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/sejarah-ayam-pelung-2/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/sejarah-ayam-pelung-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 13:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua pendapat yang menyatakan tentang asal muasal dari ayam pelung ini. Pertama, ayam pelung mulai dipelihara dan dikembang biakan pada tahun 1850 oleh seorang Kiai bernama H. Djarkasih, seorang penduduk Desa Bunikasih, Kecamatan Warung Kondang.
Suatu ketika ia bermimpi bertemu dengan Eyang Suryakancana, yang merupakan putera Bupati Cianjur pertama. Dalam mimpi tersebut H. Djarkasih disuruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=8&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada dua pendapat yang menyatakan tentang asal muasal dari ayam pelung ini. Pertama, ayam pelung mulai dipelihara dan dikembang biakan pada tahun 1850 oleh seorang Kiai bernama H. Djarkasih, seorang penduduk Desa Bunikasih, Kecamatan Warung Kondang.</p>
<p><span id="more-8"></span>Suatu ketika ia bermimpi bertemu dengan Eyang Suryakancana, yang merupakan putera Bupati Cianjur pertama. Dalam mimpi tersebut H. Djarkasih disuruh Eyang Suryakancana mengambil seekor ayam jantan yang disimpan di suatu tempat. Keesokan harinya saat sedang mencangkul di kebun, ia menemukan seekor anak ayam jantan yang besar dan tinggi. Kemudian ayam itu dipelihara dan setahun kemudian kokoknya terdengar enak dan berirama merdu.</p>
<p>Pendapat yang kedua, menyatakan bahwa pada 1940 seorang penduduk Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang yang bernama H. Kosim sedang bertamu kepada Gurunya. Saat itulah ia melihat seekor ayam betina sedang bersama anak-anaknya. Salah satu anak ayam tersebut terlihat berbeda, terlihat lebih besar, tinggi dan berbulu jarang. Kemudian ayam tersebut dipelihara dan dirawat dengan baik sehingga menghasilkan suara yang merdu.</p>
<p>Kini ayam pelung sudah banyak dikembangbiakkan di daerah pedesaan di Cianjur. Untuk mendapatkan bibit ayam ini bisa datang ke Kecamatan Warungkondang, Pacet, Cugenang, Cianjur dan Cempaka. Sedangkan untuk mendapatkan ayam pelung yang sudah menghasilkan suara bagus, Anda harus merogoh kocek lumayan besar, karena harganya bisa mencapai 10-20 juta per ekor. Sedangkan untuk ayam betinanya yang masih berproduksi bernilai 500 ribu sampai 800 ribu. Harga yang tidak murah bila dibandingkan dengan ayam biasa. Tapi bagi yang hobi dan mencintai keunikan, harga ayam pelung ini sudah sebanding dengan kelebihannya. <strong>(IP/dlf)</strong></p>
<p><em>Sumber: </em><a href="http://www.puncakview.com/ayampelung.htm">www.puncakview.com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=8&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/sejarah-ayam-pelung-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menekuni Kerajinan Lampu Hias</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/menekuni-kerajinan-lampu-hias/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/menekuni-kerajinan-lampu-hias/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 20:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/menekuni-kerajinan-lampu-hias/</guid>
		<description><![CDATA[
Aneka ragam lampu hias ini terlihat indah dan bernilai seni. Lampu ini disebut lampu gentur, sesuai dengan nama tempat pembuatannya, di Kampung Gentur, Desa jambudipa, cianjur, Jawa Barat. Lampu &#8211; lampu ini tidak saja dipasarkan didalam negeri, tetapi juga diekspor ke mancanegara.
Karena itu namanya disesuaikan dengannegara pemesannya. Seperti lampu model Maroko untuk lampu pesanan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=6&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://www.indosiar.com/images/news/kisi-kisi/a_070818_lampu02.jpg" alt="Lampu Gentur" /></p>
<p>Aneka ragam lampu hias ini terlihat indah dan bernilai seni. Lampu ini disebut lampu gentur, sesuai dengan nama tempat pembuatannya, di Kampung Gentur, Desa jambudipa, cianjur, Jawa Barat. Lampu &#8211; lampu ini tidak saja dipasarkan didalam negeri, tetapi juga diekspor ke mancanegara.</p>
<p><span id="more-6"></span>Karena itu namanya disesuaikan dengannegara pemesannya. Seperti lampu model Maroko untuk lampu pesanan dari Maroko. Serta lampu model India, untuk pesanan dari India. Salah seorang yang menekuni usaha kerajinan lampu gentur ini adalah Duduy.</p>
<p>Untuk mencapai sentra kerajinan lampu gentur ini dapat mengambil arah ke kota Cianjur, Jawa Barat. Lalu mengambil arah ke Warung Kondang. Ditempat ini, Duduy membuat beragam jenis lampu hias dengan dibantu 10 orang karyawan. Bahan pembuatannya adalah kaca patri yang dipotong &#8211; potong dan diberi warna.</p>
<p>Proses pengerjaannya dilakukan secara sederhana. Potongan kaca dicat dengan cara disemprot. Setelah itu diberi rangka alumunium dan dipatri. Lampu hias yang dihasilkan bermacam &#8211; macam sesuai dengan pesanan.  Ada yang berbentuk bulat, ada juga yang berbentuk persegi. Di kios display dipajang berbagai jenis lampu hias.</p>
<p>Ada yang berbentuk kapsul variasi. model bola. Dan juga model apolo. Lampu hias karya Duduy ini diekpsor ke berbagai negara, seperti Maroko, India, Jepang, Brazil, Australia, dan Belanda. Sedangkan untuk pasaran dalam negeri, dijual ke Jakarta, Bandung dan Bali. Harganya bervariasi, mulai dari 60 ribu rupiah hingga 700 ribu rupiah per unit. <strong>(Helmi Azahari/Dv)</strong></p>
<p><em>Sumber: </em><a href="http://www.indosiar.com/news/kisi-kisi/62172_menekuni-kerajinan-lampu-hias">www.indosiar.com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=6&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/menekuni-kerajinan-lampu-hias/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indosiar.com/images/news/kisi-kisi/a_070818_lampu02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lampu Gentur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Daluang dan Tinta Gentur dalam Tradisi Menulis Masyarakat</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/daluang-dan-tinta-gentur-dalam-tradisi-menulis-masyarakat/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/daluang-dan-tinta-gentur-dalam-tradisi-menulis-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 19:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/daluang-dan-tinta-gentur-dalam-tradisi-menulis-masyarakat/</guid>
		<description><![CDATA[SELAIN menggunakan kertas daluang, tradisi menulis dalam masyarakat Sunda dilakukan dengan menggunakan tinta khusus yang dibuat sendiri. Karena pembuatannya dilakukan masyarakat Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur,  tinta tersebut disebut tinta gentur.
Tinta gentur dibuat dibuat dengan menggunakan dua jenis bahan baku utama, yakni jelaga dan beras ketan. Jelaga diperoleh dengan cara membakar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=5&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SELAIN menggunakan kertas daluang, tradisi menulis dalam masyarakat Sunda dilakukan dengan menggunakan tinta khusus yang dibuat sendiri. Karena pembuatannya dilakukan masyarakat Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur,  tinta tersebut disebut tinta gentur.</p>
<p><span id="more-5"></span>Tinta gentur dibuat dibuat dengan menggunakan dua jenis bahan baku utama, yakni jelaga dan beras ketan. Jelaga diperoleh dengan cara membakar minyak tanah di dalam kaleng bekas cat dan kemudian asapnya ditampung dengan menggunakan kaleng yang lebih besar. Jelaga yang sudah terkumpul kemudian dihaluskan di dalam sebuah tempat yang disebut dulang.</p>
<p>Bahan baku lainnya berupa beras ketan digarang di atas wajan sampai menjadi arang. Arang beras ketan tersebut kemudian disiram air panas lalu digodok sampai mendidih sehingga terbentuk santan arang yang berwarna hitam. Kepekatannya akan bertambah setelah bubur arang ketan tersebut dicampur jelaga yang sudah dihaluskan.</p>
<p>Sebelum digunakan sebagai tinta, cairan berupa tinta berwarna hitam tersebut disaring dengan kain lalu didinginkan. Tedi yang mengutip pembuatan tinta di Garut mengungkapkan cara yang sedikit berbeda, terutama dalam penggunaan bahan baku. Di daerah itu, bahan baku jelaga diperoleh dari merang yang dibakar sampai menjadi arang. Merang adalah batang malai padi.</p>
<p>Tedi mengungkapkan, dari dua kegiatan dalam tradisi menulis masyarakat Sunda “tempo doleoe” itu tampak bagaimana kearifan tradisional yang dengan jeli bisa memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk satu pemberdayaan sumber daya alam dan masyarakat yang bisa diupayakan secara berkelanjutan. (Her Suganda)</p>
<p><em>Sumber: <strong>KOMPAS</strong> &#8211; Jumat, 24 Aug 2001 Halaman 26.Dikutip dari: <a href="http://daluang.com/tag/tinta/">daluang.com</a></p>
<p></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=5&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/daluang-dan-tinta-gentur-dalam-tradisi-menulis-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jambu Dipa, Legenda yang Hampir Punah</title>
		<link>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/jambu-dipa-legenda-yang-hampir-punah/</link>
		<comments>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/jambu-dipa-legenda-yang-hampir-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 18:46:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jambudipa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/jambu-dipa-legenda-yang-hampir-punah/</guid>
		<description><![CDATA[BEGITU memasuki Desa Jambu Dipa yang terletak di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, hamparan sawah terlihat hampir di setiap jengkal tanah. Tanaman padi yang tumbuh di areal persawahan itu terlihat subur dengan pengairan yang memadai.
Bagi warga desa tersebut, tanah adalah berkah Tuhan yang tak pernah henti mereka syukuri. Hampir setiap jengkal tanah di daerah itu luput [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=4&subd=jambudipa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>BEGITU memasuki Desa Jambu Dipa yang terletak di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, hamparan sawah terlihat hampir di setiap jengkal tanah. Tanaman padi yang tumbuh di areal persawahan itu terlihat subur dengan pengairan yang memadai.</p>
<p><span id="more-4"></span>Bagi warga desa tersebut, tanah adalah berkah Tuhan yang tak pernah henti mereka syukuri. Hampir setiap jengkal tanah di daerah itu luput dari bencana kekeringan tahunan. Sumber mata air yang keluar dari kaki Gunung Gede seakan tiada habisnya mengairi areal  persawahan di desa tersebut.</p>
<p>Kesuburan tanah di daerah itu membuat Desa Jambu Dipa dikenal sebagai sentra produksi padi pandanwangi. Menurut Burhan, sejak dulu orang mengenal Jambu Dipa sebagai penghasil beras asli pandanwangi yang baunya harum dan rasanya enak. &#8220;Dulu orang suka bilang beras Jambu Dipa untuk membedakan beras pandanwangi produksi desa ini dengan beras pandanwangi produksi daerah lain di Cianjur. Karena memang rasanya lebih enak dibandingkan yang lain,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, perkembangan pandanwangi di daerah Jambu Dipa berawal ketika tahun 1970 seorang petani Cianjur bernama Nawawi diberi benih padi oleh Kosim yang sehari-hari berprofesi sebagai tengkulak gabah. Benih padi itu selanjutnya ditanam Nawawi di atas lahan miliknya yang terletak di Desa Mayak, Kecamatan Cibeber, Cianjur.</p>
<p>Sejak awal, tanaman padi tersebut menyebarkan aroma wangi seperti daun pandan. Semerbak tanaman padi itu membuat masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama &#8220;pandanwangi&#8221;. Saat dipanen, beras pandanwangi tetap mengeluarkan aroma wangi, berbentuk bulat seperti telur. Beras Pandanwangi produksi Nawawi itu pun laris. Wangi dan rasanya luar biasa.</p>
<p>Kesohoran beras itu pun terdengar oleh para petani dari daerah lain di wilayah Cianjur, termasuk Dimiati dan Jalal, petani asal Warungkondang, Cianjur. Mereka pun mengikuti jejak keberhasilan Nawawi dengan turut menanam varietas pandanwangi. Dua petani itu menanam varietas pandanwangi di daerah Jambu Dipa dan Bumikasih yang kedua-duanya berlokasi di Kecamatan Warungkondang, Cianjur. Sejak saat itu, pertanaman pandanwangi di ketiga daerah tersebut berkembang luas.</p>
<p>Penyebaran pandanwangi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan menyebar dari kecamatan Warungkondang ke Kecamatan Cibeber, Cugenang, Cilaku, dan Cianjur, serta kecamatan lainnya di Kabupaten Cianjur. Tanaman pandanwangi juga dapat dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Majalengka, dan Karawang. Luas penyebaran pandanwangi terus meningkat dari 1.681 hektar pada tahun 1993 menjadi 13.220 hektar pada tahun 2002.</p>
<p>Namun, penyebaran terbesar di lima kecamatan di Cianjur tersebut dan sampai sekarang menjadi sentra produksi padi pandanwangi. Dalam lima tahun terakhir, luas pertanaman pandanwangi di Cianjur, terutama sentra produksi di lima kecamatan itu, rata-rata 6.500 hektar. Rata-rata hasil gabah kering panen dari ubinan yang dilakukan di sejumlah sentra produksi tersebut mencapai 7,2 ton per hektar.</p>
<p>Konon, varietas pandanwangi yang asli hanya dapat tumbuh di lima kecamatan di Cianjur. Namun, daerah yang paling tersohor sebagai penghasil beras pandanwangi adalah Desa Jambu Dipa yang termasuk wilayah Kecamatan Warungkondang. Hal tersebut diperkirakan karena sawah di daerah tersebut memperoleh pasokan air dari mata air Gunung Gede. &#8220;Kalau ada yang menanam benih padi pandanwangi di daerah lain, rasanya sudah beda,&#8221; kata Kepala Seksi Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur Yayat Supriatna.</p>
<p>Kini, kejayaan Desa Jambu Dipa sebagai sentra produksi beras pandanwangi tinggal kenangan. Sejak beberapa tahun terakhir pamor beras varietas lokal tersebut terus merosot. (EVY)</p>
<p><em>Sumber: <strong>Kompas, </strong>14 Februari 2004. </em><a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0402/14/daerah/857404.htm">www.kompas.com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jambudipa.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jambudipa.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jambudipa.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jambudipa.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jambudipa.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jambudipa.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jambudipa.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jambudipa.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jambudipa.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jambudipa.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jambudipa.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jambudipa.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jambudipa.wordpress.com&blog=3709681&post=4&subd=jambudipa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jambudipa.wordpress.com/2008/05/14/jambu-dipa-legenda-yang-hampir-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09d472da9fea22739321300476ff603f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">J.Dipa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>