Jambudipa adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur. Luas wilayah Desa Jambudipa
sekitar 167,6 Ha yang sebagian besar berupa lahan pesawahan seluas 129 Ha dengan ketinggian kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut.
Desa Jambudipa dapat dikategorikan sebagai daerah rural/transisi yaitu daerah yang masyarakatnya bertransisi dari masyarakat desa menuju masyarakat kota. Hal ini dikarenakan letak wilayah yang dekat dengan pusat kota (9 km ke Ibukota Kabupaten Cianjur), Pemerintahan desa yang dekat dengan kecamatan (1 km), sistem perekonomian yang beragam, jalur yang strategis dilewati jalan protokol sehingga menjadi daerah transit yang menghubungkan Sukabumi dengan Bandung.
Desa ini terkenal dengan beberapa produk unggulannya seperti padi pandanwangi dan lampu hias gentur yang sudah merambah manca negara. Selain itu desa ini juga dikenal dengan daerah santri karena banyaknya pondok pesantren. Pesantren yang paling dikenal diantaranya Pesantren Gentur dan Pesantren Darul Falah Jambudipa.
Menurut legenda dan cerita beberapa tokoh masyarakat desa, riwayat asal nama jambudipa yaitu dikisahkan pada masa sekitar abad ke-18 ada beberapa pasukan Kerajaan Mataram yang hendak menuju ke daerah Banten melalui Jalan tengah melewati daerah Cianjur. Pasukan tersebut dipimpin oleh Ratu Linggo. Ratu Linggo sampai di suatu tempat pedataran yang masih merupakan kebun ilalang dan pohon-pohon rindang untuk beristirahat sambil mengasah dan memperdalam ilmu kebathinan atau ilmu “Jawu”. Karena keunikan ilmu tersebut sehingga mengundang pasukan-pasukan yang lain untuk belajar. Akhirnya Ratu Linggo dan pasukannya membuka tempat dan orang-orang pada waktu itu menyebut tempat tersebut dengan nama “Jawu Dwipa.” -Tidak diketahui selanjutnya pergeseran istilah Jawu Dwipa menjadi Jambudipa- Sekembalinya dari Banten putra Ratu Linggo yaitu Raden Jumulloh menetap di Jambudipa. Sedangkan Ratu Linggo pindah ke daerah Sumedang.
/*DS*