Lebih banyak diminati orang asing.
Kalau hendak pergi ke kawasan Puncak, Bogor, mampirlah di kawasan Cisarua. Di sepanjang jalan, banyak toko yang menjual aneka lampu antik. Ada yang memang benar-benar antik, ada pula yang antik-antikan. Dari sekian banyak lampu hias itu, yang paling menarik perhatian adalah lampu dengan kaca mozaik berwarna-warni yang dipadukan dengan logam kuningan. Lampu jenis ini sudah banyak dikoleksi hotel atau orang-orang berduit.
“Ini lampu Gentur, asli Cianjur,” kata si pedagang lampu sembari menunjuk lampu yang dimaksud. Gentur adalah sebuah kampung yang terletak di Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, sekitar 10 kilometer ke arah selatan dari Kota Cianjur. Di sinilah sentra lampu nan artistik itu berdiri. Hampir semua warga kampung yang hidup sederhana itu mengolah logam dan kaca menjadi lampu.
Di antara para pembuat lampu, Enang Saepudinlah yang dinilai paling sukses memasarkan lampu Gentur hingga ke Eropa dan Amerika. Itu sebabnya, Enang dipilih menjadi menjadi Ketua Koperasi Industri Kerajinan Rakyat Lampu Gentur, yang beranggotakan 30-an perajin lampu.
Pria separuh baya ini bertutur sejatinya lampu hias itu merupakan warisan para santri Pesantren Gentur yang telah berusia 50 tahun–salah satu santrinya yang terkenal adalah KH A. Shohibulwafa Tajul Arifin, yang dikenal dengan nama Abah Anom. Menurut Enang, membuat lampu adalah bagian dari tradisi yang dilakoni para santri ini. Bahkan lampu menjadi sumber penghasilan mereka. “Awalnya para santri itulah yang membuat lampu ini karena butuh penerangan pada malam hari,” kata ahli waris generasi ketiga dari pendiri pesantren tersebut.
Semula, katanya, lampu itu hanya dipasarkan kepada warga sekitar. Hingga suatu ketika datang pembeli dari luar Cianjur yang memesan lampu berbentuk miniatur rumah Minangkabau. “Pesanan itu menjadi sejarah yang tercatat karena bisa dipenuhi santri,” ujarnya. Sejak itulah lampu Gentur seolah menemukan dunia lain yang jauh lebih luas dan variatif. Lampu Gentur pun tak cuma berputar-putar di sekitar Cianjur.
Kini lampu Gentur dijual dengan harga Rp 50-350 ribu per unit. “Tergantung keunikan desainnya,” kata dia. Pasar utamanya, selain Bali, adalah Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Menurut Enang, melalui Bali, dia memasarkan lampu Gentur hingga ke Singapura, Malaysia, Italia, Yunani, dan Amerika Serikat. “Sampai sekarang saya sudah membuat lebih dari 200 model lampu. Semuanya masih laku dan ada pemesannya masing-masing,” katanya.
Para peminat seni, kata dia, paling sering mencari lampu gantung model balon dengan garis tengah 50 sentimeter berbahan baku kaca gelas putih susu, yang harganya Rp 175 ribu per buah. Sedangkan untuk lampu gantung minyak antik, Enang mengaku telah meniru model lampu kerajaan Persia. “Model ini agak mahal, satunya Rp 250 ribu,” paparnya.
Model yang paling laku, tutur Enang, tentu saja modal lampu kaca starfole. Ini merupakan lampu dekoratif yang dibuat dari mozaik kaca dipadu dengan kuningan. Ada beragam model yang ditawarkan. Untuk lampu ukuran diameter 50 sentimeter, harganya Rp 150 ribu, sedangkan yang 30 sentimeter cukup Rp 75 ribu. “Model ini kebanyakan untuk interior restoran dan rumah tinggal,” kata Enang.
Menurut Enang, pemesan lampu Gentur lebih banyak datang dari luar negeri. Umumnya, kata dia, orang asing senang dengan keunikan lampu ini, yang berwarna-warni dengan logam kusam kekuning-kuningan. “Kalau konsumen lokal, hanya dari kalangan tertentu,” ujarnya. “Mereka maunya logam yang kuning mengkilat.”
Namun, pemasaran lampu Gentur sempat terganggu ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta pada akhir Mei lalu. Bisnis Enang dan para perajin lain sempat terganggu. Akibat musibah itu, pesanan yang datang dari Amerika Serikat tiba-tiba dibatalkan. Dia memang berekanan dengan pengusaha dari Kota Gudeg itu untuk ekspor ke Amerika. Apa daya, gempa bumi menghancurkan impian. “Waktu itu omzet penjualan turun lumayan. Beberapa pesanan batal,” katanya.
Pemasaran agaknya masih menjadi persoalan bagi para perajin lampu Gentur. Mereka masih belum mampu menjual langsung kepada pembeli di luar negeri. Para perajin ini masih harus melalui pedagang di Yogyakarta atau Bali untuk bisa menembus pasar ekspor. Padahal, jika bisa menjual langsung, keuntungan yang mereka peroleh tentu lebih besar ketimbang menyerahkan pemasarannya kepada pihak ketiga. Inilah tampaknya pekerjaan rumah yang berat bagi Enang dan perajin lampu Gentur lain.
Selain itu, kata Enang, meski Kampung Gentur telah menjadi sentra dengan lampu hias sebagai industri andalan, pemerintah daerah setempat belum memberikan perhatian. Seharusnya, kata dia, pemerintah mendorong pemasaran dan permodalan sehingga perkembangan industri kerajinan tak berjalan lambat. “Kami ingin pemerintah menjadi fasilitator yang menghubungkan kami dengan mitra usaha dengan pola kemitraan,” ujarnya. DEDEN ABDUL AZIZ
Sumber: www.korantempo.com
Yth, Ibu/Bapak,
Saya tertarik untuk tahu lebih kanjut mengenai lampu Gentur. Apa kah ada no telp perajin yang bisa saya hubungi ?
Terima kasih banyak dan Salam,
Retno