SEBELUM alat tulis pulpen atau sejenisnya buatan pabrik beredar di pasaran, masyarakat umumnya menggunakan alat tulis berupa tinta atau mangsi dengan kalam. Mata atau ujung kalam yang tajam, dicelupkan pada tinta. Kemudian barulah ditulis ke kertas.

ADEP (50) warga Kp. Peuteuycondong Desa Songgom Kec. Gekbrong Kab. Cianjur, memeragakan cara menulis menggunakan tinta tradisional buatannya. Hingga saat ini, dia bersama istrinya masih rutin mendapat pesanan membuat “mangsi” dari salah satu toko di Cianjur Kota.* YUSUF ADJIE/”PR”
Namun, sejak pulpen beredar di pasaran, keberadaan mangsi dan kalam ini lambat laun ditinggalkan. Kalaupun masih ada, kemungkinan hanya digunakan untul kalangan terbatas saja. Seiring dengan itu, pembuat tinta atau mangsi tradisional kini sudah terbilang sangat jarang atau langka.
Namun demikian, bukan berarti pembuat mangsi tradisional ini sudah punah. Saat ini, masih ada yang bertahan. Salah satunya yang masih rutin memproduksi adalah pasangan suami istri Adep (50) dan Enung (40) warga Kampung Peuteuycondong Desa Songgom Kec. Gekbrong Kab. Cianjur. Hingga saat ini, mereka berdua masih rutin mendapat pesanan membuat mangsi dari salah satu toko di Cianjur Kota.
“Pesanannya tidak rutin tiap hari. Kami membuat mangsi bergantung pada pesanan. Biasanya sih antara tiga atau empat bulan sekali, sekali pesan mencapai 30.000 botol kecil. Semua biaya dan bahan bakunya disediakan pemesan, di sini cuma membuat saja. Kami cuma dapat upah kerja, yah lumayan buat tambahan penghasilan,” ujar Adep, Minggu (20/1).
Adep mengatakan, mangsi buatan dia dan istrinya hingga saat ini masih ada pemesan karena lebih tahan lama di kertas. Dia tidak mengetahui pasti, hasil produksinya itu dipasarkan ke mana saja. Namun, berdasarkan informasi mangsi buatannya itu masih dipakai untuk santri di pesantren.
Adep mengungkapkan, bisa membuat mangsi merupakan warisan turun-temurun dari leluhur istrinya. Entah tahun berapa, keduanya tidak ingat lagi pertama kali bisa membuat tinta tersebut. Namun, perkembangan tinta itu berawal dari lingkungan pondok Pesantren Gentur di Desa Jambudipa Kec. Warungkondang puluhan tahun silam.
Ketika itu berawal dari kebutuhan sendiri untuk menulis, termasuk dipakai para santri. Akhirnya, pembuatan tinta dari lingkungan pesantren pun berkembang ke warga sekitarnya.
“Dulu sih membuat tinta untuk dipakai sendiri. Mungkin sudah dua puluh tahunan buat mangsi. Kalau saya hanya membantu, yang bisa memprosesnya hingga jadi tinta, istri saya. Istri saya kan asalnya dari Desa Jambudipa Kec. Warungkondang, di sana banyak yang bisa membuat tinta karena asalnya dari lingkungan Pesantren Gentur,” kata Adep.
Turun-temurun
Demikian pula dengan Enung, dirinya tidak mengetahui pasti kapan bisa membuat tinta. Hanya, dia mengaku bisa membuat tinta dari orang tuanya. “Turun-temurun orang tua saya juga bisa dari kakek saya,” katanya.
Adep menceritakan, secara singkat proses pembuatan mangsi, menggunakan alat-alat di antaranya cempor dengan bahan bakar minyak tanah, blek (kaleng persegi), dan beras ketan. Di tempatnya menggunakan cempor dan blek sebanyak 74, bila semuanya digunakan sehari semalam bisa menghabiskan kira-kira 80 liter minyak tanah. “Cempor yang menyala dimasukkan dalam blek, dibiarkan hingga menghasilkan serbuk hitam yang menempel di blek,” ujarnya.
Menurut dia, serbuk hitam hasil pembakaran cempor yang menempel di blek itulah yang diambil dan dikumpulkan sebagai bahan baku utama tinta. Setelah itu, beras ketan ditumbuk hingga halus dan ditambah air. Kemudian, airnya disaring dan dicampurkan dengan serbuk hitam. “Biasanya pesanan 30.000 botol itu bisa kami kerjakan selama satu bulan, kalau dihitung-hitung bisa menghabiskan minyak tanah kira-kira 400 liter,” katanya.
Dia mengatakan, sebenarnya proses pembuatan mangsi atau tinta tradisional, seperti yang dilakukannya tidaklah terlalu rumit. Namun, membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Dia menduga saat ini jumlah pembuat tinta tradisional berkurang kemungkinan bukan karena faktor membuatnya sulit, namun disebabkan enggan bergelut dengan kotorannya. “Kalau buat ini kan, khususnya sekujur tubuh bisa jadi hitam semua, mehong,” ungkapnya. (Yusuf Adji/”PR”)***
Sumber: www.pikiran-rakyat.com
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya pertama kali mengunjungi kediaman Pak Adep dan Ibu Enung di sekitar tahun 1998, waktu itu hanya bertemu dengan Ibu Enung dan Alhamdulillah mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pembuatan “Mangsi Gentur”.
Berkaitan dengan informasi yang saya dapatkan, beberapa kali saya perkenalkan keberadaan “Mangsi Gentur” kepada masyarakat dengan cara-cara yang saya mampu.
Alhamdulillah saat ini sudah banyak kalangan masyarakat, umumnya dari kalangan non-santri yang mengenal keberadaan “Mangsi Gentur” ini.
Mudah-mudahan dengan kepedulian kita semua, kearifan tradisional milik kita bisa terselamatkan.
Sukses untuk Pak Adep dan Ibu Enung.. Maaf jika pada pertemuan kita terdahulu tidak berlanjut pada hal-hal yang bersifat kongkrit.