SELAIN menggunakan kertas daluang, tradisi menulis dalam masyarakat Sunda dilakukan dengan menggunakan tinta khusus yang dibuat sendiri. Karena pembuatannya dilakukan masyarakat Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, tinta tersebut disebut tinta gentur.
Tinta gentur dibuat dibuat dengan menggunakan dua jenis bahan baku utama, yakni jelaga dan beras ketan. Jelaga diperoleh dengan cara membakar minyak tanah di dalam kaleng bekas cat dan kemudian asapnya ditampung dengan menggunakan kaleng yang lebih besar. Jelaga yang sudah terkumpul kemudian dihaluskan di dalam sebuah tempat yang disebut dulang.
Bahan baku lainnya berupa beras ketan digarang di atas wajan sampai menjadi arang. Arang beras ketan tersebut kemudian disiram air panas lalu digodok sampai mendidih sehingga terbentuk santan arang yang berwarna hitam. Kepekatannya akan bertambah setelah bubur arang ketan tersebut dicampur jelaga yang sudah dihaluskan.
Sebelum digunakan sebagai tinta, cairan berupa tinta berwarna hitam tersebut disaring dengan kain lalu didinginkan. Tedi yang mengutip pembuatan tinta di Garut mengungkapkan cara yang sedikit berbeda, terutama dalam penggunaan bahan baku. Di daerah itu, bahan baku jelaga diperoleh dari merang yang dibakar sampai menjadi arang. Merang adalah batang malai padi.
Tedi mengungkapkan, dari dua kegiatan dalam tradisi menulis masyarakat Sunda “tempo doleoe” itu tampak bagaimana kearifan tradisional yang dengan jeli bisa memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk satu pemberdayaan sumber daya alam dan masyarakat yang bisa diupayakan secara berkelanjutan. (Her Suganda)
Sumber: KOMPAS – Jumat, 24 Aug 2001 Halaman 26.Dikutip dari: daluang.com